Pegawai Lapas Ditangkap BNNK, Bosnya Langsung Protes: Saya Keberatan! – Fajar
Kriminal

Pegawai Lapas Ditangkap BNNK, Bosnya Langsung Protes: Saya Keberatan!

ilustrasi

old.fajar.co.id, TARAKAN – Merasa dicederai oleh beberapa lembaga terkait, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kanwil Kemenkumham) Kalimantan Timur (Kaltim), melayangkan protes atas penangkapan terhadap salah seorang jajarannya di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II Tarakan.

Kepala Kanwil Kemenkumham Kaltim Agus Saryono menyatakan, pihaknya sedang mendalami kasus penangkapan terhadap sipir Lapas Tarakan Hendra Delpian yang diduga terlibat sindikat narkoba.

Hanya saja, Agus menyayangkan langkah Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Tarakan yang tanpa berkoordinasi dengan jajaran Kemenkumham langsung menjemput paksa Hendra ketika sedang bertugas menjaga lapas pada Senin lalu (12/6). “Saya sudah melakukan pernyataan keberatan kepada Badan Narkotika Nasional Provinsi Kalimantan Utara secara lisan,” ujarnya kepada JPNN.com (Portal Jawa Pos Group), Minggu (18/6) .

Lebih lanjut Agus mengaku telah melaporkan tindakan arogan BNNK Tarakan kepada Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen PAS) Kemenkumham. “Saya mendapat perintah supaya memonitor kasus tersebut,” tuturnya.

Pihaknya masih memiliki rekaman Closed Circuit Television (CCTV) saat petugas BNN menangkap Hendra dengan cara yang tak lazim dan mengabaikan ketentuan hukum. Agus menyebut kasus itu janggal karena penyidik BNNK Tarakan yang menangkap Hendra menyebut target sebenarnya bukan sipir yang kini disangka menjadi perantara transaksi narkoba tersebut.

Selain itu, Agus juga mengaku bingung soal pihak yang menangani kasus penyelundupan lima kilogram sabu-sabu asal Malaysia yang menjerat Hendra. Sebab, BNNK dan Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal) XIII Tarakan juga menangani kasus itu.

Saat ini, Hendra sudah menjadi tersangka dan ditahan di Polres Tarakan. “Perkembangan kasus ini akan terus saya laporkan ke pimpinan di Jakarta,” ujar Agus Saryono.

Agus pun sudah berbicara kepada semua jajaran Lapas Kelas IIA Tarakan bahwa Kemenkumham tak akan membela Hendra jika terbukti terlibat dalam kasus narkoba. Sebaliknya, jika Hendra ternyata tak bersalah maka Kemenkumham akan membelanya. “Tidak boleh ada rekayasa kasus,” ucapnya.

Sebelumnya, Kepala Lapas (Kalapas) Tarakan Fernando Kloer membantah keterlibatan anggotanya, dirinya malah balik menuding oknum Lantamal XIII Tarakan dan BNN Tarakan melakukan penculikan terhadap anggotanya saat bertugas menjaga pintu masuk Lapas.

“Saya keberatan dan saya sudah buat surat ditembuskan ke Panglima TNI, Komandan Lantamal, Menteri Hukum dan HAM, Komnas HAM, Kapolda Kaltim dan Kapolres Tarakan,” bebernya.

Diceritakan Fernando, beberapa waktu lalu, Hendra -sapaan akrab Hendra Delpian,  sudah diculik saat melaksanakan Pengamanan Pintu Utama (P2U), yakni memeriksa alur keluar masuk orang dan barang. Dengan memeriksa semua barang pengunjung yang ditakutkan dapat menimbulkan bahaya yang tidak diperbolehkan membawa ke dalam Lapas, seperti senjata api atau lainnya.

Dan ternyata BNNK Tarakan sudah berencana untuk menangkap basah Hendra dengan membawa tersangka kasus penangkapan sabu 5 kg sebelumnya, sebagai pengunjung.

“Saat itu barang yang akan diberikan (tersangka) belum sempat sampai ke tangan Hendra ataupun membukanya, dia langsung sudah ditarik paksa dan digelandang secara sadis oleh beberapa oknum yang mengaku dari BNNK Tarakan dan Lantamal XIII Tarakan. Padahal saat itu Hendra sedang bertugas memeriksa pengunjung,” ucapnya.

Terkait hal ini, dirinya juga akan melaporkan kejadian itu kepada Kantor Wilayah Hukum dan HAM di Samarinda, lalu akan melaporkan ke Dirjen Lembaga Pemasyarakatan dan Kementrian Hukum dan HAM di Jakarta.

“Saya berharap kejadian serupa tidak terjadi lagi, kalau memang pihak-pihak terkait mau menangkap anggota kami, seharusnya mereka meminta izin, komunikasi dan koordinasi dengan saya sebagai Kalapas,” tegasnya.

Indonesia adalah Negara hukum, yang memiliki prosedur dan juga azas-azas yang melindungi kepengtingan hukum seseorang. Seperti pada azas hukum Presumption of Innocence (praduga tidak bersalah).

“Jangan dilakukan secara bar-bar, sadis, kejam, dan tidak manusiawi karena itu merupakan pelanggaran HAM yang berat,” tuturnya.

Fernando juga mempertanyakan, alasan penyidik BNNK Tarakan menggiring tersangka sabu 5 kilogram (kg) yang telah diamankan sebelumnya oleh Lantamal XIII Tarakan, dengan membawa barang bukti ke Lapas. Menurut dia, jika sabu tersebut adalah pesanan Lapas seharusnya penyidik menyurati Kepala Lapas untuk meminta klarifikasi dari anggotanya. “Anak buah saya ini sampai babak belur, bahkan di-posting di media sosial (medsos) terkait dengan 5 kg sabu, perlu diketahui anak buah saya itu sedang mengalami sakit paru,” tuturnya.

Pihaknya mengaku sempat mengajukan komplain ke Kepala BNNK Tarakan Agus Surya Dewi, dengan alasan menanyakan anggotanya yang terlalu cepat ditetapkan tersangka, juga terkait alat bukti yang digunakan. Padahal, penetapan tersangka juga memerlukan proses, sehingga pihaknya merasa ada yang tidak sesuai dalam kasus tersebut.

“Dasarnya apa melakukan penangkapan, saya bilang hal itu ke ibu Dewi untuk menjelaskannya. Karena anak buah saya membawa atau menyimpan barang itu juga tidak, ini langsung diculik, dia belum sentuh barangnya kok. Kalau begini namanya pelanggaran HAM, di hp-nya juga tidak terbukti ada percakapan komunikasi dengan kurir tersebut,” ungkapnya.

Untuk diketahui, bahwa Hendra sudah ditetapkan tersangka sesuai surat yang diterima Kalapas dari BNNK Tarakan. Jika memang nantinya Hendra terbukti, Kalapas juga memastikan untuk urusan narkoba pihaknya tidak main-main atau tebang pilih. “Jika terlibat pasti dipecat,” tegasnya.

Kepala BNNK Tarakan Agus Surya Dewi yang dikonfirmasi melalui pesan Whatsapp kemarin (22/6), menjawab dengan singkat terkait keberatan yang dilayangkan oleh Kementrian Hukum dan HAM dan Kalapas Kelas II A Tarakan Fernando Kloer kepada pihak BNNK Tarakan. “Ya, biar aja nanti fakta yang membuktikan,” tulisnya.

Terpisah, Komandan Lantamal XIII Tarakan Laksamana Pertama TNI Ferial Fachroni juga mengaku sudah menerima surat keberatan Kalapas Kelas II A Tarakan terkait penangkapan anggotannya. Pihaknya berencana dalam waktu dekat akan menggelar konfrensi pers terkait hal ini. “Nanti kami akan tindak lanjuti dengan konfrensi pers menjawab terkait hal ini,” singkatnya.

Sebelumnya kasus penangkapan Hendra, Selasa 13 Juni, tim East Fleet Quick Response (EFQR) Lantamal XIII Tarakan yang sedang menjalani tugas melakukan pemeriksaan terhadap kapal maupun perahu yang melintasi di Tarakan, Senin (12/6) sekitar pukul 09.30 Wita berhasil mengamankan barang bukti (BB) narkoba jenis sabu seberat 5 kilogram (kg) dari satu unit speedboat bermesin 40 PK.

Selain mengamankan BB seberat 5 kg, turut juga diamankan dua pelaku yakni seorang motoris berinisial SA (23) dan seorang penumpang berinisial IS (38) di lokasi kejadian yang berada di perairan sekitar Juata Laut, tepatnya sekitar wilayah Tanjung Haus.

Tak butuh waktu lama saat diketahui barang tersebut positif sabu, pihaknya langsung mengembangkan kasus ini, untuk menelusuri jalur penyeludupan narkoba ketika sampai di Tarakan. Tepat pukul 11.30 Wita, tim EFQR berhasil mengamankan seorang pelaku lagi berinisial MA (36) di sekitar Stasiun Pengisian Bahan Bakar (SPBU) di Kelurahan Juata Laut.

Setelah itu, Lantamal XIII Tarakan menyerahkan ke pihak BNNK Tarakan untuk segera dilakukan pendalaman kasus, hingga akhirnya mengamankan Hendra saat sedang bertugas di Lapas Tarakan. (jnr/nri)

Most Popular

To Top